Tak lebih dari dua jam lagi saya sudah harus meninggalkan kota Jember, kota kelahiran saya. Liburan yang seharusnya cukup lama, kurang lebih 10 hari terasa seperti 10 jam saja. Sunyinya, dinginnya, dan masyarakat “telo-lema“-nya (baca: Madura Jember) membuat susah untuk berpisah. Bahkan kata “macet” yang dulu asing di Jember, sekarang sudah mulai akrab bagi masyarakat [...]



