Siapa yang tidak tahu gedung perpustakaan megah yang dikenal dengan Crystal of Knowledge, di tengah-tengah kampus Universitas Indonesia, Depok. Perpustakaan ini bahkan disebut-sebut sebagai perpustakaan terbesar di dunia dengan luas lahan 2,5 hektar dan luas bangunan 33.000 meter persegi seperti diberitakan detikfoto. Pembangunan perpustakaan ini dimulai pada Juni 2009 dan diresmikan 13 Mei 2011. Hal yang menarik adalah bahwa gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep “sustainable building” yaitu kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan yakni energi matahari (solar energy) dan bebas asap rokok, plastik, serta hemat listrik, air, dan kertas. Selain itu keunikan perpustakaan modern ini juga terletak pada seni arsitekturnya, modern dan futuristik. Saya merasa sedang tidak berada di Indonesia apabila mengunjungi perpustakaan ini. Benar-benar unik.

Arsitektur gedung Crystal of Knowledge ini benar-benar di atas rata-rata. Model bangunannya modern, seperti bangunan di Eropa. Sambil takjub dengan seni arsitektur perpustakaan yang tidak biasa, saya mengambil gambar. Waktu itu saya masih menggunakan lensa pinjaman, Tamron AF 18-200mm dengan parameter lensa ISO 160, focal length 18mm, aperture f/3.5, exposure 1/40 sec, dan auto whitebalance.

Masuk ke dalam gedung perpustakaan, kita disuguhkan interior yang tak kalah luar biasanya. Penataan ruangan dan penataan penerangan (lampu) yang menarik sungguh membuat saya merasa nyaman di dalam perpustakaan. Gampangnya, interior dalam perpustakaan seperti mall. Mall istimewa. Spot yang paling saya suka adalah pintu masuk menuju ruang perpustakaan lantai satu. Siluetnya dapet banget dengan pencahayaan minim, berfoto dengan  non-flash light. Parameter lensa: ISO 1600, focal length 31mm, aperture f/7.1, exposure 1/125 sec, dan auto whitebalance.

Lebih ke dalam lagi, monumen-monumen kecil ada di sekitar publik area dalam perpustakaan. Mulai dari patung manusia hingga patung bentuk abstrak. Salah satu monumen yang saya sukai adalah monumen bergulung-entah namanya apa. Jadi sekumpulan kayu dibentuk bergelombang disusun tinggi ke rendah, agak sulit mendeskrispsikannya memang. Ah, saya sebut “swirl” saja kalau begitu. Parameter lensa: ISO 1600, focal length 18mm, aperture f/3.5, exposure 1/4 sec, dan auto whitebalance.

Berjalan ke luar gedung perpustakaan saya mendapati beberapa komunitas violinist sedang berlatih. Ada yang sudah mahir dan ada pula yang masih sengau gesekan biolanya. Beranda perpustakaan ini sangat teduh karena beberapa pohon rindang kokoh menutup sinar cahaya matahari pagi di hari minggu. Satu kesan yang saya tangkap, mereka semua gembira dan nyaman. Gambar yang saya ambil agak candid, karena beberapa dari mereka menyadari kalau sedang saya ambil gambarnya sehingga sedikit memalingkan muka🙂 Parameter lensa: ISO 2000, focal length 112mm, aperture f/5.6, exposure 1/60 sec, dan auto whitebalance.

Selain para violinist ini, saya juga mendapati banyak yang mempergunakan beranda perpustakaan ini sebagai tempat diskusi. Diskusi bebas tentunya. Tidak harus mengenai masalah kuliah mungkin masalah pribadi ataupun komunitas tertentu. Ya, memang beranda ini sedikit menyerupai taman (atau memang taman) yang indah, nyaman, dan pastinya bersih. Pantulan air hujan membuat gambar yang saya ambil menjadi sedikit unik. Parameter lensa: ISO 125, focal length 95mm, aperture f/5.6, exposure 1/160 sec, dan auto whitebalance.

Salah satu sudut crystal of knowledge yang saya sukai karena terkesan bukan seperti di Indonesia. Lanskap yang teratur, indah, dan bersih menambah daya tarik perpustakaan ini. Dari jauh seperti bukit yang ada monumen di tengahnya dengan saluran air yang berbaris rapi dari atas ke bawah saling menyilang. Di bawahnya terdapat jalur paving blok yang menjadi tempat favorit untuk berfoto. Parameter lensa: ISO 100, focal length 18mm, aperture f/10, exposure 1/250 sec, dan auto whitebalance.

[Catatan perjalanan: Crystal of Knowledge, perpustakaan yang ada di tengah-tengah komplek kampus Universitas Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai perpustakaan terbesar di dunia yang menganut sistem sustainable building. Modern, futuristik, dan go green.]

Serang, 4 Juli 2012

Sore, 30 Juni 2012 saya sedang iseng hunting sekitaran komplek kampung di Warung Pojok, Serang. Kebetulan saya sedang menunggu kerjaan percetakan bikin x-banner outlet saya yang lamanya minta ampun. Melirik ke tanah lapangan yang “dipaksa” menjadi tempat pembuangan sampah, saya melihat obyek menarik. Sebuah tumbuhan dengan bunganya yang masih kuncup telah kering namun masih bisa berdiri kokoh. Sekilas tumbuhan ini mirip tumbuhan terlarang, Papaver somniferum L. alias opium, meski itu tidak mungkin. Perkiraan saya ini adalah tumbuhan semacam ilalang yang mati dan kering karena sampah di sekitarnya.

Sedikit mencari sudut yang tepat sambil menon-aktifkan mode autofocus (AF) kemudian membidik tumbuhan yang mirip opium ini. Saya sengaja menon-aktifkan mode autofocus agar saya lebih leluasa mengatur fokus obyek dengan depht of field (DOF) yang saya inginkan. Lensa yang saya gunakan adalah Canon EF 50mm f/1.8 II, yap prime lens murah meriah. Parameter lensa yang saya gunakan adalah ISO 200, focal length 50mm, aperture f/2.8,  exposure 1/60 sec. Saya tidak mempergunakan flash built-in karena cahaya akan terlalu keras pada obyek.

Finishing saya lakukan dengan Adobe Photoshop Lightroom 4 dengan preset andalan saya🙂

“Kuncup Kering”    by M. Azra | June 2012 | Canon EOS 600D | EF 50mm f/1.8 II

#Hari 1     Carita – Anak Krakatau – Pulau Panjang

Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sifat anak tidak jauh dari orangtuanya. Mungkin pepatah itu juga berlaku pada Anak Krakatau, sebuah gunung volcano aktif di perbatasan Jawa-Sumatra, Indonesia.

Krakatau, saya yakin semua orang sudah mafhum dengan nama itu. Laman wikipedia.org menjelaskan Krakatau, atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan Krakatoa, adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama Krakatau pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Anak Krakatau Pertengahan 2008

Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Sifat Anak Krakatau pun diprediksikan tak jauh dari pendahulunya, Gunung Krakatau, besar dan mematikan. Kecepatan pertumbuhan tinggi Anak Krakatau sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Penyebab tingginya gunung itu karena adanya material geologis yang keluar dari perut gunung. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai hingga 250 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut ketika meletus.

Oke, sudah cukup pelajaran geografinya. Seperti judul di atas, saya dan beberapa teman kantor yang sevisi merencanakan suatu program adventure yang bertajuk “exploring Banten”. Kegiatannya mengupas tuntas semua obyek wisata alam, bahari, sejarah maupun kuliner di Banten dan mengemas semuanya dalam sebuah petualangan yang seru. Kalau boleh jujur saya sebenarnya terinspirasi iklan Djarum Super yang ber-tagline My Great Adventure Indonesia, pasti semua sudah tahu.

Subuh, Kamis 2 Juni 2011, pukul 04.30 WIB, saya dan berenam tim Exploring Banten berangkat dari kantor di sekitaran Palima, Serang menuju pantai Carita untuk bersiap menyaksikan keanggunan dan kemegahan the great volcano, Anak Krakatau. Sesuai rencana awal, perjalanan kami dilakukan selama tiga hari Kamis – Jumat – Sabtu dengan tujuan Krakatau – Pulau Peucang – Ujung Kulon. Kami dijemput oleh Pak Edi, tour guide sekaligus EO kami, menggunakan Suzuki APV miliknya. Saya duduk di depan, di tengah ada Echi, Ayu, dan Mbak Yanti, serta dibelakang Bowo, Mas Tom, dan Keke. Sejenak mampir di Masjid Agung, Pandeglang untuk sholat subuh, sekitar pukul 08.00 kami tiba di Carita. Boat ukuran sedang telah menunggu, lengkap dengan pengemudi dan dua ABK. Setelah briefingdan perkenalan dari Pak Edi dilanjut berdoa bersama, boat meluncur deras menuju Anak Krakatau.

Di depan masjid kuno, Carita -- Boat menuju Krakatau -- Nasi goreng sarapan

Perjalanan Carita-Anak Krakatau menghabiskan waktu sekitar 2 jam perjalanan laut. Di sana kita disuguhkan pemandangan laut luas, Selat Sunda. Pagi itu laut sangat tenang, hati saya pun menjadi tenang. Nasi goreng kotakan lengkap dengan ayam goreng dan telur ceplok menjadi menu sarapan pagi di atas boat. Oia, pengemudi boat kami sudah cukup berumur, ya mungkin sekitar 60 tahun, saya tak sempat menanyakan namanya. Namun, yang unik ternyata bapak pengemudi cukup gaul. Topi yang beliau pakai adalah topi surfer bermerk VOLCOM. Bertampang dingin namun sudah handal mengemudikan boat, begitulah ciri khasnya. Sementara salah satu ABK-nya, kalau tidak salah namanya Ade, beliau sangat ramah dan murah senyum, sepintas wajahnya mirip pelawak Boneng waktu masih muda.

Sang Nakhoda "Gaul" dan ABK-nya

Berbentuk pulau dengan sedikit vegetasi hijau dan ditengah-tengahnya menjulang the great volcano Anak Krakatau, kami telah sampai tujuan. Jam tangan saya menunjukkan pukul 10.00 WIB, sinar mentari pagi sangat sehat menyengat kulit. Pasir-pasir gunung yang hitam terhampar luas diseluruh daratan, pantai hingga gunungnya. Sementara Anak Krakatau berdiri dengan gagahnya angkuh menyapa. Pos penjagaan kecil dari Kementrian Kehutanan pengelola cagar alam Ujung Kulon lengkap dengan beberapa petugas pun terlihat di kaki Anak Krakatau. Begitu besar dedikasi mereka terhadap alam, salute. Berfoto sejenak di dekat pos jaga, kami kemudian mohon ijin pada petugas setempat untuk melakukan pendakian ke puncak Anak Krakatau.

Land of Child Krakatoa

Sebelum Mendaki Anak Krakatau

Kesan pertama saat mendaki adalah terlihat mudah dan jarak tempuhnya tak terlampau jauh. Namun tenyata bayangan saya salah. Trek yang menanjak cukup membuat pemula seperti saya kewalahan. Saya belum pernah naik gunung sebelumnya, selain Bromo dan Ijen. Ijen tak sampai puncak, sedangkan Bromo semua orang pun bisa menaklukannya. Tapi saya memaksakan demi Anak Krakatau yang eksotis. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlari, terengah-engah saya sampai setengah jalan dan saya tertinggal di belakang, sementara teman2 lain sudah beberapa meter di depan. Sebentar mengambil nafas sambil menangkap keindahan alam melalui kamera. Menatap ke atas puncak masih setengahnya, saya berbalik ke samping. Saya pun terkesima dengan pemandangan yang ada. Indahnya luar biasa. Tampak dari kejauhan gunung Rakata dan Pulau Panjang tertutup awan tipis, ciptaan Sang Maha Penguasa. Subhanallah..

Mendaki Gunung Lewati Lembah...

Sang Tetangga : Gunung Rakata dari Anak Krakatau

Meski lelah, kami lanjut mendaki. Lumayan sudah sampai tengah perjalanan. Bowo sudah memimpin di atas, disusul kemudian Keke. Nampaknya Bowo punya motivasi lebih untuk menaklukkan Krakatau karena tepat di belakangnya ada sibajupink. Sementara saya masih berjalan tergopoh dengan terengah, mbak Yanti sibuk dengan dSLR-nya. Mas Tom, Ayu, dan Echi masih asyik berfoto-foto. Pak Edi dan satu ABK kapal tadi masih berjalan dengan menenteng sandal. Dan kemudian hal yang tidak diinginkan terjadi. Anak Krakatau batuk.

Detik-detik "wedhus gembel" Anak Krakatau | Panah Merah itu Posisi saya

Terlihat dari puncaknya Anak Krakatau memuntahkan wedhus gembel. Asap itu berwarna abu-abu pekat dan tentunya panas, menjulur-julur keluar dari kaldera. Tak ada suara gemuruh maupun gempa vulkanik. Tak ada hujan apalagi petir. Kami panik dan jujur saya takut banget pada saat itu. Dengan kalap segera berlari turun. Pak Edi mengomandoi kami untuk segera turun. Dan ternyata turun lebih mudah daripada naik. Tak sampai lima menit sudah berada beberapa meter di bawah. Sesampainya di tempat yang agak aman kami berhenti dan kembali menatap ke puncak Anak Krakatau. Wedhus gembel sudah lenyap, digantikan dengan asap – seperti asap Honda CB jadul yang sedari tadi menguap. Tidak ada dari kami yang pernah mengalami pengalaman luar biasa ini. Sambil beristirahat di bawah pohon kami bertukar cerita. Mereka semua menertawakan saya karena lari paling depan. Maklum karena badan paling gede jadi secara grafitasi akan lebih memudahkan untuk menuruni gunung, alibi saya.

Puas beristirahat, kami melanjut turun gunung untuk pulang. Sesi selanjutnya adalah snorkeling di Legon Cabe, dekat Pulau Panjang, my favourite. Tak lupa berpamitan pada petugas kami segera naik kapal melanjutkan perjalanan. Menurut petugas di sana, kejadian wedhus gembel tadi adalah hal biasa dan tergolong letupan kecil karena tidak disertai gempa vulkanik dan pijaran lava. Ya, tapi tetap saja menyeramkan untuk orang awam seperti kami.

Anak Krakatau dari Sisi Lain

Sebelum snorkeling pak nakhoda “gaul” menyilakan kami untuk memutari Anak Krakatau dengan boat. Sungguh pemandangan dan petualangan yang indah. Dari hasil pengamatan saya, Anak Krakatau terbagi menjadi dua sisi. Sisi pertama sisi landai, aman juga hijau, cocok untuk melabuhkan kapal dan beristirahat di pepondokan petugas jaga. Sementara sisi belakang gunung adalah cadas dan tidak aman. Asap maupun luberan lava sering kali langsung melalui sisi ini. Tidak ada vegetasi tanaman yang tumbuh di sisi ini, cuma ada pasir dan batuan cadas. Saya sempat mendokumentasikan keliling Anak Krakatau dalam video HP. *sayang wordpress tidak mengijinkan saya untuk upload foto, baca: termasuk fasilitas berbayar*

Pulau Panjang dari kejauhan

Perjalanan ke Pulau Panjang, meskipun dekat cukup membuat hati berdebar. Bagaimana tidak, ketika boat kami menuju ke sana, laut sudah mulai tidak bersahabat. Ombak setinggi dua meter menemani perjalanan kami. Jadilah boat milik kami berkali-kali dihempaskan deburan ombak. Seru dan menantang. Cipratan air laut sebagian masuk ke kapal, basah. Saya tidak berani mengambil gambar karena takut kamera atau HP terkena air laut, pun dengan teman-teman lain. Akhirnya saya hanya bisa berdoa dan berserah pada Yang Maha Kuasa semoga perjalanan kami tidak menghadapi rintangan yang berarti.

Sesampainya di spot snorkeling Legon Cabe, ombak masih lumayan tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, masih sekitar 1,5 meter. Pak nakhoda “gaul” mengisyaratkan  bahwa ombak tersebut masih dalam batas wajar dan tidak berbahaya. Setelah menambatkan boat, Keke si petualang pertama mencebur ke laut, sementara saya dan yang lainnya masih pikir-pikir untuk snorkeling di ombak sebesar itu. Dan benar saja, Keke tidak bisa diam di satu posisi karena terus terseret ombak laut. Yang lainnya masih di kapal dan terserang wabah pusing dan mual-mual. Boat yang terombang ambing oleh ombak membuat kami semua mual mabuk laut. Akhirnya beberapa teman menceburkan dirinya ke laut, untuk sekadar menghindar dari wabah mual di atas boat. Karena kondisi semakin tidak nyaman, kami minta boat agar merapat di Pulau Panjang.

Salah satu Biawak sialan..

Pulau Panjang adalah pulau kosong tak berpenghuni. Berhutan dengan sedikit pantai. Kami makan siang di sana, menunya ayam goreng, menunya biasa sih tapi tempatnya yang luaarr biasa. Sebentar kami bersenda gurau sambil makan, tiba-tiba datang seekor biawak liar yang ukurannya cukup besar. Satu muncul, ternyata ada lagi, mungkin pacarnya atau TTM-nya. Tak seberapa lama muncul lagi yang lain, kali ini lebih kecil. Total ada enam biawak yang mendekati kami. Usut-punya-usut ternyata biawak tersebut keluar karena tertarik dengan aroma ayam goreng kami. Akhirnya ada beberapa potong ayam goreng yang harus direlakan demi menghibur biawak-biawak kelaparan itu.

Selesai makan dan istirahat, kami lanjut untuk meninggalkan Pulau Panjang menuju pantai Carita lagi untuk pulang. Rencananya kami akan menginap di desa Sumur, Pandeglang. Pak Edi tour guide sekaligus EO kami memiliki sebuah penginapan, Villa Sarang Badak namanya. Kami semua akan menginap di sana. Pak Edi sudah berpengalaman dalam hal ini, dan tamunya tidak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Rencana untuk esok hari adalah menuju Pulau Peucang yang katanya mirip surga. Saya sudah tak sabar untuk melanjutkan cerita ini. (to be continued)

Perjalanan Carita-Anak Krakatau-Pulau Panjang berakhir di sini. Anak Krakatau yang bandel tapi gagah pesonanya sungguh membuat semua orang ingin kembali mendakinya. Selanjutnya kami menuju Pulau Peucang dan Ujung Kulon (UK).

artikel dan satu gambar diambil dari sini.

Palima, Serang, Jumat 21 Oktober 2011

Heiiyoo.. saya masih workshop proyek kantor di Kalibata, Jakarta untuk melanjutkan cerita ini, maaf kalau ceritanya rada panjang. My last postCukang Taneuh yang Menawan dan Citumang yang Perawan (Part 1)“, kami; saya, Pandu, Yudha, Rosid, Sindu, Nia, dan Ita masih di sekitaran Kecamatan Cijulang, wanawisata Cukang Taneuh aka. Green Canyon berada. Pulang dengan badan setengah remuk dan beberapa kaki-tangan lecet kami melanjut mencari penginapan. Standar kami bukan hotel bintang tiga ataupun bintang tujuh. Kami mencari homestay, ya, rumah penduduk yang bisa disewa. Menurut informasi local guide kami – masih ingat dengan sopir kapal di Green Canyon pada cerita Part 1, penginapan banyak tersedia di Batu Karas, jika tidak ada di Pangandaran. Berangkat dari informasi itu, melanjutlah kami ke Batu Karas.

Batu Karas Surfing Destination

Pantai Batu Karas, Pangandaran, Kab. Ciamis

Sore hari sekitar pukul 16.00 kami masuk wilayah Batu Karas. Belum menikmati pemandangan apapun, kami sudah ditarik retribusi di gerbang masuk lokasi Rp27.200,- untuk satu mobil, tidak mahal. Mulailah kami mencari penginapan. FYI, Batu Karas merupakan nama salah satu destinasi wisata pantai selatan yang letaknya di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang dapat dijangkau dengan kendaraan lebih kurang 45 menit dari Pangandaran atau 5 menit dari Green Canyon. Batu Karas adalah surga bagi olahraga selancar dan olah raga air lainnya seperti banana boat. Sore itu, Batu Karas lumayan rame. Banyak juga wisatawan asing maupun domestik yang datang ke Pantai Batu Karas untuk berselancar. Di sini kita bisa mencoba kemantapan kaki untuk berdiri dan meliuk bersama ombak di atas surfboard. Namun, olahraga itu tidak cocok bagi saya, kebetulan satu-satunya papan selancar yang saya punya adalah papan untuk setrika alias ironboard, dan saya tidak membawanya.

30 menit kami berkeliling mencari penginapan. Karena hari itu adalah weekend, semua penginapan di pinggir pantai sudah penuh. Setelah bertanya sana-sini dapat lah kita penginapan. Homestay atau rumah penduduk itu harganya Rp500.000,- per malam dengan fasilitas dua kamar tidur, ac (angin celowokan), kamar mandi luar (bener2 di luar rumah utama dengan penutup seadanya), tv 14″, kompor gas yang gasnya harus beli dulu, dan listrik mungkin 450watt yang gampang sekali nggejlek. Dengan fasilitas seperti itu, Nia sang akuntan langsung nego. Dan kita mendapat harga spesial hari itu meskipun katanya yang punya rumah tidak sedang ulang tahun, Rp300.000,- semalam. Cukup sebanding dengan fasilitasnya.

Malam di Pinggir Pantai Batu Karas, Pangandaran

Malamnya kami berjalan menyusuri pantai karena sore tadi harus istirahat dan bersih-bersih badan. Niat awal mencari makan seafood atau semacamnya. Tapi akhirnya kami urungkan karena tempat dan harganya tidak representatif (baca: mahal). Bolehlah kami berfoto di sekitaran pantai selatan. Malam yang cukup hiruk dengan desiran angin khas pantai selatan dan diselingi deburan ombak yang menderu kencang – dingin menusuk tulang. Suara nyaring pepohonan bergesekan dengan angin bak bernyanyi dalam kesunyian malam. Malam itu, pantai Batu Karas sedang pasang. Kami terus memantau twitter dan social network lainnya takut ada tsunami datang. Dan, Alhamdulilah ya ternyata tidak ada tsunami, sesuatu banget buat kami.

Di homestay, kami; saya, Pandu, Nia, Yudha lanjut bermain kartu, sementara chef Ita dan chef Rosid menyiapkan menu makan malam spesial, Indomie goreng khas anak kos, setelah sebelumnya membeli gas elpiji 3kg Rp15.000,- salah satu “fasilitas” homestay kami. Dan Sindu terkapar pulas di kasur karena belum tidur 3 hari 3 malam karena kesibukan kerjaan. Capek bermain kartu minuman (kadang juga disebut permainan cangkul), kami main truth or truth, bukan truth or dare, karena dare-nya bingung disuruh apa. Jadilah sesi curhat gratis malam itu, sangatabgsekali.

Pukul 07.00 pagi kami bersiap untuk kembali menyambangi pantai. Rencana utama adalah melihat sunrise from the south of Java. Namun alih-alih melihat sunrise, karena kesiangan, kami cuma kedapatan sunbath. Ya, karena matahari sudah tinggi, pantai sudah panas oleh terik matahari pagi. Jadilah kami hanya berfoto di suatu tanjung yang menjulang membentuk bukit di pinggir pantai Batu Karas. Di bawahnya deburan ombak pantai selatan beradu dengan cadasnya batu karang, indahnya istimewa.

Meretas cerita di bukit-tebing pinggir Pantai Batu Karas, Pangandaran

Puas berfoto-foto kami kembali untuk bersiap melanjutkan perjalanan pulang. Sebelum pulang kami sepakat untuk mencari satu obyek wisata lagi. Dan pantai Batu Hiu yang kami pilih.

 Pantai Batu Hiu Wisata Keluarga

Kurang lebih 20 menit perjalanan dari Batu Karas, Innova tangguh kami memasuki wisata Pantai Batu Hiu, sebuah pantai dengan tebing cukup terjal yang memiliki pemandangan lepas ke arah Samudra Hindia. Pantai Batu Hiu ini terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Ciamis. Pantai ini dinamakan “Batu Hiu” karena tampak di pinggir laut sebuah batu karang yang menyerupai sirip ikan hiu. Pantai batu hiu mudah dikenali karena memiliki landmark yang cukup unik di gerbang masuk lokasi wisata. Seekor hiu besar yang siap memangsa para pengunjung adalah landmarkutama wisata Pantai Batu Hiu ini. Tebing di pinggir bukit di tepi pantai Batu Hiu adalah spot memancing terbaik di sini. Dari sana para pemancing-pemancing lokal maupun luar kota beradu teknik demi mendapat ikan karang buruannya. Kebetulan saya membawa pancing, dua bahkan, namun bukan pancing yang cocok karena alat pancing yang saya punya adalah pancing kali bukan pancing laut.

Foto Model Style @Batu Hiu, Pangandaran

Sungguh berada di sana membuat kami tak bosan. Sangat seru berdiri di tepi tebing terjal dengan ketinggian, mungkin 15 meter. Khawatir kesorean kami memutuskan untuk segera beranjak dari surga dunia itu. Pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan untuk pulang, setidaknya itu rencana awal sebelum hal yang menakjubkan menimpa kami.

Berbelok dari pantai Batu Hiu, kami menuju jalur utama Pangandaran untuk pulang. Namun, entah kenapa sang driver Pandu malah menuju ke wisata alam lain sekitar situ. Saya tak jelas maksudnya. Okelah mampir sebentar, batin saya. Melalui sebuah jalur yang sempit, saya melirik ke sebuah tulisan di atas, “Menuju Lokasi Wisata Alam Citumang”. Bingung, mungkin pantai lagi, tidak ada yang tahu.

Citumang “The Hidden Paradise”

Melalui jalan yang sempit, Innova kami menuju ke the unknown place, Citumang. Satu-dua portal mirip pos penjagaan terlewati. Pertama masuk bayar Rp1.500,- kemudian pos berikutnya Rp2.000,- kemudian semakin ke dalam semakin sempit jalurnya. Mana tempat wisatanya? Kenapa cuma hanya ada portal dadakan yang dibuat oleh penduduk setempat untuk menghalalkan pungli? Pun tidak dengan karcis yang resmi dari dinas pariwisata setempat. Belum sempat pertanyaan saya itu terjawab di depan sudah ada portal lagi. Kali ini bayar Rp5.000,- buat ongkos parkir katanya.

Ke arah kiri Innova kami mengambil posisi parkir. Buka jendela mobil, ada bapak-bapak yang datang menghampiri. Kesempatan ini tak kami sia-siakan. Dengan polosnya kami langsung bertanya, “Ini wisata apa?”. “Ini Citumang”, jawab bapak itu sekenanya. “Citumang itu apa?”, lanjut kami masih dengan wajah bingung. “Ayo turun lihat-lihat fotonya”, jawab bapak tadi dengan ramah.

Citumang, the Hidden Paradise

Dan ternyata Citumang adalah the hidden paradise. Gambar yang dicitrakan dalam foto yang ditunjukkan pada kami oleh bapak penjaga tadi sangat memukau. Indahnya istimewa – sungai, goa, dan airnya. Yap, Citumang merupakan nama sungai di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Ciamis. Satu hal yang unik dari Sungai Citumang, airnya berwarna kebiruan mengalir dari dalam goa cadas tak jauh dari sana. Goanya indah dengan stalaktit-stalaktit proses alamiah ratusan tahun. Konon, nama Citumang berasal dari legenda seekor buaya buntung bernama “Si Tumang” yang hidup disekitaran goa. Begitu kuatnya kepercayaan penduduk akan kehadiran buaya buntung tersebut sehingga sampai sekarang sungai itu diberi nama Citumang. Sedangkan goa alami yang mengalirkan air sungai dari dalam tanah bernama Goa Taringgul.

Tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk mengambil tour-Citumang. Kami dapat menikmati wisata alam Citumang hanya dengan membayar kalau tidak salah Rp35.000,- per orang itu sudah termasuk sewa pelampung Rp15.000,-. Sedangkan tips guide tersendiri dan terserah pengunjung. Di Citumang atau biasa dikenal dengan the Green Valley kita bisa melakukan aktivitas seperti tracking, wall climbing, berenang, body rafting, dan yang paling seru adalah ekspedisi goa Taringgul.

Citumang masih perawan, mungkin masih banyak belum tahu lokasi itu. Berbeda dengan Green Canyon yang pengunjungnya sampai antri panjang. Di sini, kami langsung masuk dan menuju lokasi tanpa antri. Meski tidak seramai Green Canyon, keksotisan Green Valley Citumang tidak kalah. Kami langsung masuk ke bibir goa Taringgul, berenang. Goanya gelap, airnya biru sedalam mungkin 6-7 meter. Seperti halnya green canyon, di sini juga ada anjungan untuk adegan loncat indah. Bedanya di Citumang, sebelum loncat kami memanjat tebing kemudian dilanjut memanjat akar pohon berdiameter 20cm, cukup serem untuk mengadu nyali. Tinggi akar yang tumbuh horizontal di atap gua ini sekitar 5 meter dari permukaan air. Hampir semua dari kami meloncat termasuk kali ini Rosid. Agaknya dia penasaran setelah kemarin tak melompat. Saya dan Pandu melompat, jebuur…suara gemuruh airnya mantab. Sedangkan Rosid melompat, clepekk…suaranya kurang mantab karena badannya terlalu ringan. Sindu, sama seperti ketika di Green Canyon, dia yang paling semangat memanjat. Namun ketika sudah sampai di akar pohon di atap gua, dia kembali mengurungkan niatnya, turun melalui tebing dan tidak jadi lompat. Nampaknya keeksotisan Citumang belum dapat membujuk nyalinya.

1) Persiapan Loncatan 2) Terbaang..

Setelah berenang kami melanjut menyusuri goa Taringgul. Gelap, senyap, dan mungkin mistis. Pandu sebagai seorang dokter telah menyiapkan perlengkapan khusus untuk menyusuri goa, yaitu senter pasien mini. Dia berenang paling depan, diikuti kami ber-enam, sedangkan guide kami entah kenapa tidak mau mengikuti dan malah berdiri di belakang. Airnya semakin biru, tak tampak dasarnya, dan kaki kami hanya bisa berenang tidak sampai menyentuh dasar, kabarnya kedalaman sungai goa itu hingga 9 meter. Sampai di ujung goa, tidak ada apa-apa. Seperti sebuah gang, di sinilah jalan buntunya. Atap goa agak terang, tanda ada lobang kecil di ujung atap goa. Kami ternganga melihat cakrawala goa, begitu indahnya. Saya kemudian berbalik arah ke belakang, tiba-tiba Ita berteriak dan bergegas berenang keluar goa. Kami kaget, kami semua ikut berenang secepatnya keluar goa. Ada apa gerangan hingga berteriak lantang seperti itu. Usut punya usut, Ita takut memasuki goa itu dan ketika di dalam merasa ada “sesuatu” berenang di bawah air dekat kakinya. Saya berharap itu bukan ular anaconda segede pohon kelapa seperti di film-film. Namun dibalik itu semua, kita semestinya harus lebih “sopan” jika berada di tempat jarang manusia seperti itu. Mungkin ada makhluk lain yang tidak suka dengan kehadiran kita, bisa jadi, tidak ada yang tahu.

Perjalanan kami selanjutnya menyusuri sungai menuju pos utama, it’s body rafting time!! Kadang sungai lumayan dalam, dan kadang cuma semata kaki. Kadang berenang dan kadang berjalan. Setiap ada air terjun kecil kami langsung menuruninya loncat indah dengan gaya seunik-uniknya selucu-lucunya. Kami juga menemukan teknik body rafting baru. Jadi, cara ini hanya bisa dilakukan secara tim. Kami menyebutnya, gaya uler-uleran(“uler”, bahasa Jawa = ulat). Tangan anggota paling belakang memegang kaki anggota tim depannya, begitu seterusnya sampai depan. Anggota paling belakang bertugas mengalirkan energi gerak dengan cara menarik-dorong kaki anggota depannya, sehingga membentuk suatu gerakan yang konstan. Sementara anggota paling depan bertugas mengatur arah sebagai sopirnya. Seru.

Citumang Punya Cerita

Kami merampungkan tour-Citumang pada pukul 01.00 siang. Sebenarnya kami masih ingin bermain lebih lama di sana, sayang mengingat jarak pulang yang cukup jauh, kami menyudahinya lebih awal. Hal yang kembali sangat disayangkan adalah kami hanya sedikit mengambil foto di Citumang, karena kamera Yudha sudah kalah kehabisan baterei sejak awal.

Di perjalanan pulang, macetnya perjalanan sebelum lingkar nagreg membuat kami jadi banyak bertukar cerita. Mulai cerita ilmiah fisika favorit saya hingga cerita mistis. Oia, malam itu kami menyadari ada beberapa keanehan foto kami di Citumang. Penampakan orbs di satu dari sekian banyak foto di depan goa Taringgul dan tangan misterius di tengah sungai. Banyak perdebatan dan diskusi yang terjadi. Yaah biarlah itu menjadi misteri penghias perjalanan kami yang mengasikkan dan menyenangkan🙂. Green Canyon yang menawan dan Citumang yang perawan. Sampai jumpa di perjalanan kami selanjutnya.

Kiri: Orbs di Goa Taringgul; Kanan: Misteri tangan siapa

Dari kiri atas: Rosid, Ita, Sindu, Pandu ; Dari kiri bawah: saya, Yudha, Nia

-beberapa foto dipinjam dari sini dan sana

kalibata-jakarta, rabu, 05 oktober 2011

Grand Canyon, USA. adalah sebuah ngarai tebing-terjal, diukir oleh Sungai Colorado, di utara Arizona. Ngarai ini merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan sebagian besar berada di Taman Nasional Grand Canyon; salah satu taman nasional pertama di Amerika Serikat. (wikipedia.org)

Itulah sepenggal artikel di laman wikipedia yang menjelaskan tentang ngarai terbesar nan indah di Amerika Serikat yang sudah sering kita kenal. Namun bukan itu yang akan saya ceritakan di posting kali ini.  Namanya Green Canyon atau ngarai hijau, adalah sebuah ngarai yang membentang di tepi sungai Cijulang yang dialiri air berwarna hijau, sehingga disebut Green Canyon. Wanawisata ini terletak di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis ± 31 km dari Pangandaran dan ± 130 km dari jantung kabupaten Ciamis. Penduduk sekitar menamai lokasi wisata tersebut dalam bahasa Sunda dengan cukang taneuh atau dalam bahasa Indonesia artinya jembatan tanah. Disebut jembatan tanah mungkin karena ngarai/tebing antara dua tepi sungai hampir menyatu menyerupai jembatan.

Cukang Taneuh "Green Canyon of Indonesia"

Wisata Cukang taneuh atau saya lebih suka sebut Green Canyon, sudah dikenal mulai tahun 90-an setidaknya itu informasi yang saya dengar dari local guide di sana. Sebutan “Green Canyon of Indonesia” sendiri mulai dikenal sejak sekelompok turis dari Perancis mengunjungi daerah tersebut pada tahun 1993. Sejak itulah nama tersebut lebih populer di kalangan masyarakat dan para pelancong dari dalam dan luar negeri.

Saya dan enam sahabat perantauan Jember; Pandu, Yudha, Rosid, Sindu, Nia, dan Ita  berkesampatan mengunjungi Green Canyon tersebut pada 10-11 September 2011 baru-baru ini. Berawal dari perbincangan reuni dan buka bersama pada Agustus 2011, kami sepakat untuk berplesir ke wilayah Ciamis dan Pangandaran, Jawa Barat ke Green Canyon of Indonesia. Jumat malam pukul 18.00 saya meluncur dari Serang sepulang kantor dengan mengendarai Innova G keluaran tahun 2010 sewaan menuju Jakarta. Meeting point pertama telah kami tentukan yaitu di Citos, Jakarta Selatan. Sejam lebih saya menunggu, berkumpullah Sindu, Yudha, Rosid, dan Nia. Lepas pukul 23.30 malam kami berangkat menuju Cianjur meeting point kedua, molor dua jam dari jadwal.

Jagorawi Malam

Dan perjalanan ke Cianjur adalah perjalanan yang penuh cerita. Saya, Sindu, Yudha, Rosid, dan Nia tidak pernah sekalipun ke Cianjur, pun melewati tol Jagorawi. Sepi senyap, nyaris masuk ke tol Cikampek dan nyaris mencium truk tronton karena tidak sadar bahwa tol berjalur dua arah langsung menghiasi cerita perjalanan. Dini hari sekitar pukul 01.30, setelah keluar dari tol Jagorawi kami masuk kalau tidak salah itu kota Bogor. Kota Bogor tidak macet seperti yang diceritakan orang, karena memang saat itu adalah dini hari tidak banyak orang beraktivitas. Pandu sahabat yang kami jemput di Cianjur memberi perintah “keluar tol langsung lurus!”.  Kata-kata itu kami pegang selama perjalanan menuju Cianjur. Kami tidak mengindahkan rambu penunjuk arah lagi karena perintahnya sudah jelas “jalan lurus“. Sejam, sejam setengah kami jalan. Kenapa tidak seperti yang dipandukan, batin saya. Tidak melewati Cipanas dan tidak melewati puncak. GPS menunjukkan wilayah Cibadak. Kami segera menelepon Pandu dan berharap memandu dengan benar. Dan yang kami khawatirkan terjadi, nyasar. Sebenarnya sih bukan nyasar cuma agak memutar sedikit. Seharusnya melewati jalur puncak tapi kami melewati Sukabumi. “Ya namanya juga jalan-jalan”, pembenaran saya.

Agar lebih memudahkan pencarian dan tidak nyasar lagi kami menggunakan fasilitas Google Latitude lewat ponsel BB. Dan perjalanan Sukabumi – Cianjur pun dimulai. Awalnya perjalanan lancar jaya karena jalanan sepi – asoy. Namun ketika sudah mendekati Cianjur, di jalan turunan, sekitar pukul 03.00, kami melihat keanehan terjadi. Pohon-pohon di kiri jalan tumbang. Tidak ada hujan angin, tidak ada pembalakan liar, pun tidak ada Death-Eaters yang mengacau. Kenapa pohon2 pada tumbang? Tak lama kami disetop oleh bapak-bapak penduduk sekitar. Informasinya ada kecelakaan tunggal truk gede yang tergelincir dan truknya menghalangi seluruh jalan. Sopirnya masih tersangkut di dalam truk tidak ada yang berani mengevakuasi, entah masih hidup atau sudah pindah alam. Sayang sekali kami tidak sempat mengabadikan kejadian nahas tersebut. Kami diarahkan untuk mengambil jalur alternatif lewat perkampungan. Sungguh jalur yang tidak cocok untuk mobil Innova. Jalur persawahan nan berbatu naik turun selebar 3 meter saja. Sindu sang driver waktu itu berjalan hati2 sambil sesekali “dimarahi” oleh pengemudi di belakang karena jalannya terlalu lambat, sambil berteriak “terus..terus..“. Meskipun ada pertigaan dan jurang di depan entah kenapa orang-orang ini tetap berteriak “terus..terus..“.

Rumah Makan BETI di Kota. Banjar

Pukul 03.40 kami tiba di Cianjur. Pandu sudah stand by dan segera melanjutkan perjalanan ke Kopo, Bandung meeting point ketiga menjemput Ita alias Yunita. Setelah menjemput Ita di Kopo kami lanjut menuju Ciamis. Lingkar Nagreg menjadi tantangan pertama. Pandu, sudah lihai mengarungi jalur Nagreg. Tapi oopss, Rosid tak tahan dan muntah. Muntah di depan rumah orang yang tak berdosa. Ita pusing tapi tak jadi muntah karena duduk di samping pak sopir Pandu yang sedang bekerja.

Pukul 08.00 kami berhenti di Kota Banjar untuk sarapan. Kami memilih resto seadanya yang penting cepat. RM Beti di Tanjungsukur, Kota Banjar jadi pilihan kami. Kami memesan nasi goreng karena seharusnya menu tersebut terbilang makanan cepat saji. Tapi ternyata sama juga lama.

Cukang Taneuh aka. Green Canyon

Dari kiri: Pandu, Ita, Nia, Sindu, Saya, Rosid, dan Yudha (yg motret)

Sekitar pukul 10.30 kami tiba di lokasi Green Canyon. Sempat berfoto sebentar di depan gerbang kemudian lanjut ke loket. FYI, untuk menikmati wisata Green Canyon dengan kapal kecil cukup membayar Rp75.000,- untuk satu kapal dengan muatan max. 5 orang dengan durasi legalnya 45 menit. Kami sewa dua kapal karena kami bertujuh. Selain itu terdapat juga paket body rafting dengan tarif Rp800.000,00 untuk 5 orang. Kami tidak memilih paket yang mahalnya selangit itu. Kami memilih membuat paket body rafting sendiri. Nanti saya ceritakan🙂

Perjalanan dimulai dengan mengantre kapal menuju Green Canyon di dermaga kecil dekat loket. Menurut petugas di sana, perjalanan menuju Green Canyon dengan kapal membutuhkan waktu 15 menit. Sehingga pulang pergi 30 menit dan waktu bermain-main di Green Canyon hanya 15 menit. Sudah jauh-jauh masa cuma sebentar saja di Green Canyon. Kami lalu mencari cara lain untuk sekedar memperlama waktu “bermain”. Berdasarkan informasi teman Pandu, pengemudi kapal juga bisa menyulap dirinya menjadi local guide. Local guide yang dimaksud disini adalah mereka bisa disuap agar bisa memperpanjang durasi sekeinginan kita sambil mengantar ke lokasi-lokasi indah di Green Canyon. Agak menyalahi aturan memang, tapi sekali-sekali boleh lah. Selama di kapal, kami menikmati pemandangan sekitar yang sangat indah-alam asri, berfoto-foto, sambil melakukan tawar menawar dengan pengemudi kapal terkait tarif special request kami. Akhirnya kami deal di harga Rp320.000,00 untuk dua kapal. Sedikit mahal, tapi lumayan lah daripada cuma 15 menit di sana.

Pada 15 menit Perjalanan Kapal ke Green Canyon

Kami begitu menikmati pemandangan alam menuju Green Canyon dengan menggunakan kapal kecil. Susunan batu cadas di sepanjang bibir sungai menghiasi kanan kiri-jalur kami. Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan hampir hijau. Tebing-tebing terjal mirip ngarai menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu kami juga melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Saya hanya berharap semoga atap dan dinding ngarai ini tidak benar-benar runtuh. Aktivitas utama di sini adalah berenang dan berfoto ria. Saran saya bawalah kamera anti air, dry bag untuk menyimpan dompet dan ponsel, serta baterai kamera cadangan. Pengalaman kami membawa pocket camera biasa dengan baterai yang cepat habis sangat menyebalkan. Hasrat berfoto-foto menjadi kurang maksimal.

Satu hal yang unik, beberapa meter dari tebing Green Canyon terdapat semacam anjungan yang sering dimanfaatkan untuk melakukan adegan lompat indah. Tingginya sekitar 7 meter. Lokasi ini merupakan spot favorit kami. Semua dari kami mencoba meloncat dari atas kecuali Rosid. Mungkin karena badan yang terlalu enteng jadi agak khawatir. Yang menarik adalah Sindu. Berkoar akan loncat 2 kali ternyata malah tidak berani lompat, ingat istri katanya. Akhirnya setelah lama berjuang melawan rasa ngerinya Sindu turun lewat dinding bebatuan (baca: tidak jadi loncat). Ternyata pengalaman loncat dari ketinggian 7 meter lumayan seru juga. Sempat melayang beberapa saat lalu, “jebuuurrrr….“.

1) Spot Lokasi Anjungan 2) Mendaki Puncak Bibir Anjungan 3) Bersiaaappp.. 4) Jebuurrr..

Perjalanan dilanjutkan semakin ke dalam. Sungai semakin sempit namun semakin dingin dan berwarna hijau. Setelah dua jam bermain rasa lelah mulai menghinggapi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Green Canyon hari itu. Satu hal lagi yang unik ketika kami pulang. Kami pulang tidak berjalan kaki atau berenang seperti saat berangkat. Kami pulang dengan gaya sepur-sepuran (baca: posisi kereta-keretaan). Jadi kami perpegangan kaki pada punggung dan mengalir mengikuti arus sambil sesekali menghantamkan diri ke batu kali, that is real body rafting stuff guys..

Green Canyon yang Menawan

Perjalanan hari itu berakhir pada pukul 15.00. Kami bersiap mencari penginapan di sekitaran Batu Karas atau alternatif lain di Pangandaran untuk melanjutkan kegiatan di esok hari. (to be continued)

-catatan kaki: dua gambar dipinjam dari sini dan situ

semeru st, jember 01 oktober 2011

Cerita Indomie Edisi Ramadhan

Cerita Indomie Edisi Ramadhan

[Cerita Iklan Indomie] “Waktu itu bulan Ramadhan, ibu saya memasak indomie kuah plus telor untuk makan sahur. Bau indomie sudah tercium hingga kamar kami. Adek saya segera beranjak dari tempat tidur setelah mencium aroma indomie. Saya masih saja tidur dan susah dibangunkan, akhirnya ibu saya menyiramkan indomie kuah ke wajah saya dan saya terbangun. Indomie memang mantabss!! Itu ceritaku, apa ceritamu??”

sumber: terinspirasi dari cerita teman

aryaduta,tangerang,kamis,7 juli 2011

Menindaklanjuti postingan sebelumnya, “Batik Tanjungbumi: Unik, Eksotis, dan Eksklusif“, kali ini saya ingin membagi tips mudah merawat batik agar lebih awet, tidak lapuk, dan warnanya tidak memudar. Sangat disayangkan jika punya batik tulis yang bagus dan unik (baca: batik madura) tapi tak bisa merawat dan akhirnya warnanya memudar. Treatment khusus memang diperlukan untuk sebuah batik, karena batik terbuat dari pewarna celup dan banyak yang dibuat dengan metode tradisional. Pun demikian dengan batik madura jenis gentongan. Batik gentongan terbuat dari pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti misalnya kulit pohon jambal untuk warna kuning, warna merah bisa diambil dari kulit mengkudu, warna hijau dari kulit mundu dicampur tawas, dsb. Pewarna-pewarna seperti ini sangat “anti” dengan detergent yang kaya akan bahan kimia yang dapat merusak warna. Selain itu batik-batik berbahan sutra sangat rentan mendatangkan ngengat. Ngengat bisa membuat kain batik menjadi cepat lapuk.

Batik Madura

Batik Madura

Berikut ini sejumlah cara alternatif merawat batik.

  1. Saat mencucinya, gunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang banyak dijual di pasaran.
  2. Atau, cuci kain batik dengan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan shampo di air sampai tak ada bagian yang mengental. Lalu, celupkan kain batik.
  3. Mencuci batik juga bisa dengan menggunakan buah lerak atau daun tanaman dilem yang sudah diredam air hangat. Caranya, remas-remas buah lerak atau daun dilem sampai mengeluarkan busa, lalu tambahkan air secukupnya, dan siap untuk mencuci batik. Aroma buah lerak mampu mencegah munculnya hewan kecil yang bisa merusak kain.
  4. Saat mencuci batik, jangan pakai deterjen dan jangan digosok. Jika batik tak terlalu kotor, cukup rendam di air hangat. Tapi jika benar-benar kotor, misalnya terkena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau kulit jeruk. Caranya, cukup dengan mengusapkan sabun mandi atau kulit jeruk di bagian yang kotor tadi.
  5. Sebaiknya, jangan mencuci batik dengan mesin cuci.
  6. Saat akan menjemurnya, batik yang basah tak perlu diperas. Dan jangan menjemurnya langsung di bawah sinar matahari. Jemurlah di tempat teduh atau diangin-anginkan hingga kering.
  7. Saat menjemurnya, tarik bagian tepi batik secara perlahan agar serat yang terlipat kembali ke posisi semula.
  8. Jika sudah dijemur, hindari menyetrika batik secara langsung. Jika batik tampak sangat kusut, semprotkan sedikit air di atas kain batik lalu letakan sehelai alas kain di atasnya, baru diseterika.
  9. Bila Anda ingin memberi pewangi atau pelembut kain pada batik tulis, jangan semprotkan langsung pada kainnya. Sebaiknya, tutupi dulu batik tulis dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain tadi di atas koran.
  10. Jangan semprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain batik, terutama batik sutera dengan pewarna alami.
  11. Simpan batik kesayangan Anda dalam plastik agar tak dimakan ngengat. Saat disimpan dalam lemari jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini sangat keras dan bisa merusak batik. Cara lain agar batik tak dimakan ngengat, beri sedikit merica yang dibungkus tisu di lemari tempat menyimpan batik. Atau, letakkan akar wangi yang sudah dua kali melalui proses pencelupan dalam air panas dan dijemur hingga kering.

Pada dasarnya, tergantung seberapa cinta kita dengan batik milik sendiri. Tentunya batik yang dibeli dengan harga mahal sayang jika dirawat seadanya saja. CMIIW🙂

sumber artikel: Kompas.com

safira, serang, Minggu 13 Maret 2011