Ka eR De = Gerbong Maut (part 1)

Posted: November 27, 2008 in UpDate

Setiap pengguna alat transportasi di Jakarta pasti langsung faham makna deretan huruf tersebut. Tiga huruf yaitu “K”, “R”, dan “D” merupakan kependekan dari salah satu nama alat transportasi yang ada di Jakarta. Kalo tidak salah siy KRD itu kependekan dari Kereta Rel Diesel – yaitu kereta api yang digerakkan oleh mesin diesel dan berbahan bakar solar pekat 70%. Sebenarnya bentuk kereta ini sama seperti kereta-kereta api pada umumnya yang beredar di pulau Jawa sejak jaman Belanda, namun di Jakarta untuk membedakan dengan kereta api listrik a.k.a. KRL dibuatlah sebuah istilah keren yaitu “Ka eR De”.

Ada yang pernah dengar peristiwa gerbong maut?? Ya, istilah gerbong maut terkenal di wilayah Jawa Timur khususnya di kota Bondowoso. 100 orang pejuang RI dimasukkan ke dalam gerbong untuk dibawa ke penjara di Surabaya tanpa pengadilan bahkan tanpa kesalahan apapun. Gerbong yang digunakan untuk mengangkut 100 pejuang RI ini sejatinya adalah gerbong barang yang di desain pengap, tak ada lobang udara, tak ada makanan apalagi toilet. Alhasil dalam perjalanan dari Bondowoso menuju Surabaya yang memakan waktu kurang lebih 4-5 jam, banyak korban berjatuhan karena kekurangan oksigen dan tergencet. Lalu kenapa KRD disamakan dengan Gerbong Maut?? Memang sedikit berlebihan, namun ini sedikit banyak menggambarkan betapa crowded, ruwed, dan sumpegnya dalam KRD yang nyaris mirip gerbong maut.

Di Jakarta sendiri KRD sangatlah mudah dikenali apalagi ketika jam-jam sibuk yaitu jam 6-7 pagi dan jam 5-6 sore. Oke kita pakai metode analisis 5 panca indra untuk memudahkan identifikasi obyek yang bernama KRD ini. Pertama mata, jika anda melihat kereta yang punya lokomotiv dan sedikit berasap belum tentu itu KRD, namun apabila terlihat pemandangan penumpang yang berjubel di dalam kereta plus bergelantungan di lokomotiv dan beberapa puluhan ada yang naik sampai atap itu pasti KRD. Saya yakin anda pasti dapat membayangkan betapa rame+ruwetnya pemandangan itu. Jika belum coba perhatikan gambar di bawah. Kedua hidung, jika anda berada di dekat KRD hingga radius 10m apalagi jika posisi anda dekat dengan toilet KRD, anda pasti mencium aroma tidak sedap dari dunia lain yaitu dunia kejorokan manusia. Bau semerbak ammonia bercampur asap rokok dan keringat manusia mix menjadi satu membentuk aroma terapi yang dapat membunuh kecoa, nyamuk, dan lalat sekaligus. Dahsyat!!

Berikutnya yang ketiga telinga, ada perbedaan prinsip antara KRL dan KRD dari segi suara. Pertama dari suara kereta, KRD lebih berisik karena memang mesin digerakkan oleh mesin diesel sedangkan KRL lebih halus karena KRL tak bermesin, KRL digerakkan oleh energi listrik potensial melalui kabel yang berseliweran di atas kereta. Kedua dari suara klakson, KRL memiliki klakson lebih garang karena tahun pembuatan KRL jauh lebih muda daripada KRD. Lokomotiv KRD rata-rata buatan tahun 80-an bahkan ada yang sebelum itu. Ya meskipun itu bukan mutlak alasan yang dapat dibenarkan karena klakson dapat diganti sewaktu-waktu.

Yap inilah pemandangan kereta di Jakarta ketika jam sibuk

Yap inilah pemandangan kereta di Jakarta ketika jam sibuk

Keempat perasa (lidah), oke kita ga perlu sampai menjilat-jilat segala untuk mengenali KRD itu karena KRD bukan lollipop yang enak untuk dijilat atau *sensored* yang saaangat enak dijilat (eits.. pasti mikir yang engga’2 deh..maksudnya es krim tau!!). Kelima peraba, untuk analisis yang terakhir ini tidak hanya menggunakan kulit tapi juga ditambah kepekaan the sixth sense atau indra keenam. Namun ini semua tidak memerlukan bantuan Ki Joko Bodo atau Mbah Roso, cukup kemampuan pribadi dari tiap individu. Dari kejauhan penampakan KRD ini sudah bisa dirasakan meskipun tanpa melihat, mendengar, mencium, dan menjilat. Tanah akan bergetar hingga 0.1-0.5 skala Richter, dedaunan akan bergoyang melambai, kecepatan angin bertambah hingga 10 km/jam, petir mulai menyambar dan langit pun menjadi gelap (memang pas lagi mau hujan siy). Dari ciri-ciri itulah kita bisa mengidentifikasi bahwa ada KRD yang akan lewat. Jika ingin bukti yang lebih valid lagi berbaringlah di atas rel kurang lebih 15-20 menit, saya yakin anda pasti akan merasakan sensasi yang luar binasa biasa melihat plus merasakan hangatnya pelukan KRD Jakarta🙂

Gimana dengan saya sendiri?? Memang saya belum mencoba sensasi berbaring di atas rel kereta seperti yang saya sarankan di atas, hehe.. :) Tapi saya ingin berbagi pengalaman pahit naek KRD pertama kali dulu khusus bagi anda yang belum pernah merasakan menumpang KRD Jakarta. Saya sebut menumpang karena saya biasanya jarang beli karcis KRD,, *yap contoh yang buruk*. Saya tertarik berbagi pengalaman ini karena pengalaman menumpang KRD ini sangat berkesan bagi saya, dan teman-teman Yovan, Noris, Onny. Kantor kami kebetulan dekat dengan stasiun Palmerah jadi kendaraan yang paling cepat dan jarang tepat adalah KRL/KRD. Setiap pulang kantor kita selalu bersama naek kereta menuju kosan kami di Bintaro. Biasanya apabila tak ada kerjaan yang menuntut pulang telat kita selalu naik (bukan menumpang) KRL Ekonomi AC Ciujung yang tiba di Palmerah pukul 17.15. Namun apabila lagi banyak kerjaan terpaksa kita menumpang KRD karena sangat tidak mungkin kita nunggu KRL AC berikutnya (kemaleman).

KRD vs KRL

KRD vs KRL

–to be continued-

Comments
  1. Vartan says:

    Ya beginilah kondisi sarana transportasi kita Kawan. Saya kira kalau kita ingin meliahat yang namanya ‘Kereta Api berbemper manusia’, ya Ka Er De itu adalah salah satu contoh konkritnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s