Cerita Sang Belalang

Posted: December 31, 2008 in Renungan

Pernahkah anda merasa iri pada orang lain? Pernahkah anda merasa selalu kalah dari orang lain? Sadarkah terkadang kita seringkali merasa selalu kalah, tak puas akan sesuatu dan akhirnya selalu iri pada orang lain. Tak tau itu iri dalam hal rejeki, prestasi, kehidupan, dan sebagainya. Saya pun demikian, kerap kali saya dihinggapi perasaan selalu kalah dan berujung pada sifat iri hati pada orang lain. Pernah saya merasa iri sekali ketika si A mendapat nilai A untuk mata kuliah akuntansi padahal kita belajar bareng dan saya merasa lebih bisa dibanding dia, si B yang mempunyai cewek lebih cantik lagi tajir, si C yang punya henpon baru, dan masih banyak lagi. Namun ketika saya mendengar cerita “sang belalang” dari teman, saya menjadi tersadar bahwa sebenarnya tidak ada kekalahan di dunia ini. Kekalahan hanya diperuntukkan oleh orang yang tidak mau berusaha yang hanya berpangku tangan menunggu nasib. Baiklah kawan saya akan berbagi cerita sang belalang ini.

Alkisah di suatu hutan hiduplah belalang yang dapat melompat jauh lebih tinggi dibanding belalang yang pernah ada. Sebut saja Grash namanya. Setiap hari Grash melompat ke sana kemari sambil menyombongkan lompatannya. Dia selalu makan pucuk daun-daunan muda di tumbuhan tinggi, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh belalang-belalang lain di hutan tersebut. Kebiasaan setiap harinya setelah makan adalah berada di pucuk yang tinggi sambil menerawang menikmati keindahan desa yang ada di seberang hutan. Cukup lama dia tersihir oleh keindahan dan kemegahan desa tersebut, hingga tanpa sadar sahabatnya Marlin si merpati datang.

“Hai kawan sudah lama aku melihat engkau terdiam di sini, apa yang sedang kau pikirkan?”, tanya Marlin.

“Oh, aku sedang menikmati keindahan desa seberang kawan, maukah kau mengantar aku ke desa itu?”, pinta Grash.

“Dengan senang hati sahabatku”, jawab Marlin.

Keesokan harinya mereka berdua berangkat ke desa seberang. Marlin terbang memutari desa sambil membawa Grash di punggungnya. Kemudian mereka sampai di atap rumah saudagar kaya yang memiliki anjing besar sebagai penjaganya, kemudian Grash menyapanya.

”Hai kawan siapa namamu?”, tanya Grash.

”Aku Theo, ada apa?”, anjing penjaga tersebut menjawab dengan angkuh.

“Oh kami hanya berkeliling melihat desa ini. Kau sedang apa di sini?”, tanya Grash ramah.

“Aku sedang menjaga rumah tuanku. Aku adalah anjing terhebat di desa ini. Tidak ada anjing yang lebih lincah dan garang seperti aku. Aku dapat mengejar semua penjahat. Aku juga dapat melompat setinggi pagar ini”, jawab Theo sambil menunjukkan pagar yang tinggi.

Karena Theo semakin sombong, gerahlah hati belalang.

“Asal kau tau saja ya, aku ini belalang terhebat di seluruh hutan. Tidak ada yang sanggup menandingi aku dalam hal melompat”, jawab Grash tak mau kalah.

“Kalau begitu kita bertanding saja, siapa yang lebih tinggi melompat dia yang menang. Pertama, kita bertanding siapakah yang bisa melompati pagar yang tinggi ini”, tantang Theo.

“Oke siapa takut”, Grash menimpali.

Mulailah mereka bertanding. Theo mendapat giliran pertama, dia melompati pagar yang tinggi dengan rasa percaya diri yang kuat. Dan dia berhasil. Setelah selesai melompati pagar dia tertawa lebar sambil mengejek Grash si belalang. Tibalah giliran Grash. Grash bersiap mengambil ancang-ancang kemudian dia melompat. Hup!! Ternyata lompatannya tak cukup tinggi untuk melampaui pagar. Dia mencoba lagi hingga tiga kali, namun hasilnya tetap sama. Pagar itu terlalu tinggi untuk dilompati oleh si belalang.

“Tuh kan, akulah yang paling jago melompat”, ejek Theo sombong.

“Oke aku menyerah kalah. Sekarang gantian aku yang menentukan peraturannya”, Grash tak mau kalah.

“Terserah”, jawab Theo.

“Siapa yang lompatannya paling tinggi dibandingkan ukuran tubuhnya dialah yang menang”, kata Grash.

Mulailah mereka berdua melompat dengan sekuat tenaga. Theo melompat tinggi sekali namun setinggi-tingginya dia melompat hasilnya tidak akan lebih dari empat kali ukuran tubuhnya. Sedangkan Grash dia sanggup melompat hingga empat puluh kali ukuran tubuhnya.

“Nah, sekarang aku yang menang jadi sementara ini kita seri”, kata Grash.

“Jadi pertandingan kita belum ada pemenangnya. Baiklah kita lanjutkan ke pertandingan ketiga, sekarang aku lagi yang menentukan peraturannya”, Theo menantang Grash kembali.

“Sipp”, Grash setuju.

Tiba-tiba Marlin yang sedari tadi memandangi kedua temannya ini memotong pembicaraan Theo dan Grash.

“Stop kawan, stop. Pertandingan ini tak akan selesai hingga kapanpun”, sela Marlin.

“Kalian semua menang di setiap game yang aturannya kalian buat sendiri. Theo menang di game pertama karena Theo-lah yang membuat peraturan di game pertama sedangkan Grash menang di game kedua karena Grash yang membuat peraturan di game kedua. Dan ini akan terjadi hal yang sama pada game-game kalian berikutnya, percuma”, jawab Marlin.

Grash dan Theo akhirnya menyadari bahwa pada dasarnya pertandingan tersebut tidak ada artinya. Satu pihak menang karena dia sendirilah yang membikin aturan tersebut dan sebaliknya.

Sama halnya dengan kita kawan pada dasarnya tidak ada yang menang atau kalah dalam kehidupan jika kita selalu berpikir postif dan senantiasa bersyukur atas pemberian Tuhan. Berkaca dari cerita di atas, bahwa sesungguhnya standar kemenangan dan potensi setiap orang berbeda-beda. Tidak benar jika kita selalu menyamakan potensi dan standar kemenangan kita dengan orang lain. Pada dasarnya kemenangan hanya bersumber dari apa yang telah kita targetkan. Kemenangan yang hakiki adalah ketika kita berhasil melampaui target yang telah kita tetapkan sesuai dengan potensi diri kita. Karena dengan begitu kita akan dijauhkan dari pikiran-pikiran negatif, seperti iri hati, selalu kecewa, sombong, dan sebagainya. Mulailah memotivasi diri agar bisa “lebih” dari orang lain namun tidak sampai menyebabkan penyakit hati, tentunya dengan membuat standar sesuai dengan potensi kita masing-masing.

 

Note: Saya mengucapkan terima kasih kepada kawan terbaik saya yang telah memberikan pencerahan dan motivasi ini. 27/12

Comments
  1. dewi says:

    ijin repost ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s