Tangerang-Serang via H.W. Daendels’s Groote Postweg

Posted: February 1, 2011 in My Adventure

Tak terasa sudah hampir 203 tahun lamanya (1808-2011) jalur Anyer-Panarukan didirikan. Masih teringat ketika guru sejarah SMP saya dulu menceritakan masa kelam bangsa Indonesia ketika dipaksa untuk membangun giga proyek “jalan tol” dari Anyer-Panarukan yang dikenal dengan Jalan Raya Pos atau De Groote Postweg sepanjang 1000km. Menurut sumber dari Inggris, giga proyek ini menelan hingga 12.000 korban jiwa sebagai efek kerja paksa oleh rakyat Indonesia pada saat itu. Jumlah tersebut tidaklah mutlak dan besar kemungkinan jumlahnya melebihi angka 12.000 mengingat pembangunannya dilakukan secara manual dengan melibatkan puluhan ribu tenaga manusia.

H.W. Daendels (1762-1818)

H.W. Daendels (1762-1818)

Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels (1762-1818). H.W. Daendels adalah marsekal Belanda yang diangkat menjadi gubernur jenderal di Hindia-Belanda oleh Napoleon, penguasa Belanda pada saat itu. Tugas utama Daendels adalah mengantisipasi serangan angkatan laut Inggris yang telah memblokade Pulau Jawa. Tahun 1808, Daendels tiba di Anyer, setelah melalui perjalanan panjang melalui Cadiz di Spanyol Selatan, Kepulauan Kanari, menggunakan kapal berbendera Amerika dari New York. Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan-angan untuk membangun jalur transportasi sepanjang Pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan hingga 1000km. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Berkat tangan besi Daendels itulah giga proyek pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan selesai selama satu tahun (1808), sebuah prestasi yang spektakuler mengingat teknologi dan sumber daya pada masa itu yang masih terbatas.

Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) menghubungkan kota-kota seperti yang sekarang kita kenal, mulai dari Anyer – Serang – Tangerang – Jakarta – Bogor – Sukabumi – Cianjur – Bandung – Sumedang – Cirebon – Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan – Kendal – Semarang – Demak – Kudus – Rembang – Tuban – Gresik – Surabaya – Sidoarjo – Pasuruan – Probolinggo – Panarukan.

Titik 0 km, Anyer-Panarukan

Titik 0 km Anyer, Kab. Serang, Banten

Pada saat pembangunan dimulai, ada beberapa daerah yang memakan cukup banyak korban jiwa. Korban jiwa ini disebabkan antara lain karena medannya yang susah dan karena pada saat itu warga sekitar melakukan perlawanan. Jalur Megamendung (Puncak) tercatat telah menelan hingga 500 korban jiwa karena topografinya menanjak dan harus membuka lahan baru. Sedangkan jalur Sumedang adalah jalur yang paling banyak menelan korban, tercatat kurang lebih 5000 korban jiwa melayang di sepanjang jalur ini. Pada mulanya banyak jalur yang semula merupakan hutan maupun areal perkebunan. Kemudian, ribuan pekerja bekerja sama membuka hutan dan meratakan perkebunan. Setiap jarak 30-40km, dibangun gardu pos untuk menggantikan kuda yang membawa kereta-pos. Lama-kelamaan disekitar gardu pos terbentuk desa dan kota. Jika diperhatikan, jarak antara tiap kota sepanjang Pantura sekitar 30-40km, hal ini menunjukkan bahwa memang dahulunya desa maupun kota tersebut adalah gardu pos.

Jalur Megamendung (Puncak) pada Saat Pembangunan Jalan Raya Pos

Jalur Megamendung (Puncak) telah Menelan Korban Hingga 500 Jiwa

Jalur Sumedang pada Saat Pembangunan Jalan Raya Pos

Jalur Sumedang, Jawa Barat telah Menelan Korban Hingga 5.000 Jiwa

Beberapa hari yang lalu (tepatnya Sabtu, 15 Januari 2011), saya dan seorang teman, Mas Dik, berkesempatan menelusuri sebagian ruas jalur Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) dari Kota Tangerang sampai dengan Kota Serang. Tak kurang jalur sepanjang 70km kami lalui atau 7% dari panjang total Jalan Raya Pos. Kami berdua mengendarai sepeda motor dengan kecepatan konstan kurang lebih 47km/jam, berangkat mulai pukul 9.50 WIB pagi, tiba pukul 11.25 WIB siang. Tujuan utama kami adalah survei kontrakan rumah di Serang, Banten. Kami belum pernah melalui jalur ini sebelumnya, tapi menurut nalar saya Jalan Raya Post adalah jalur tunggal sepanjang 1000km dari Anyer s.d. Panarukan. Logikanya, jalur ini akan lurus saja sepanjang Anyer-Panarukan. Berangkat dari pemikiran ini saya pede menelusur Jalan Raya Pos Tangerang-Serang.

Perjalanan kami mulai dari jembatan Sungai Cisadane, dekat Tangerang Plaza lurus menyusuri Cimone dan Jatiuwung. Selanjutnya, melalui jalur Bitung, melewati bawah jalan tol Bitung-Merak. Kami kemudian melalui Balaraja dan Cikupa. Jalur Bitung-Cikupa-Balaraja cukup padat oleh truk-truk besar -kami biasa sebut Transformer, karena ketiga daerah ini merupakan sentra industri perpabrikan di Tangerang. Selain macet, kendala di jalur ini adalah debu dan asap. Debu jalan raya dan asap kendaraan bermotor sempat membuat perjalanan kami terhambat. Saya menyarankan teman2 yang mau menyusuri jalur ini menggunakan masker penutup mulut-hidung. Segi positifnya jalur ini cukup lebar dan jalannya lumayan bagus, hanya beberapa ruas jalan sedikit sempit karena ada pasar tumpah khususnya di sekitar Cikupa.

Padat Merayap di Ruas Bitung-Cikupa-Balaraja

Padat Merayap di Ruas Bitung-Cikupa-Balaraja, Kab. Tangerang

Entry-point Menuju Kab. Serang

Entry-point Menuju Kab. Serang

Setelah keluar dari Cikupa, kami menyusuri Jalan Raya Jakarta-Serang menuju Cikande, Kab. Serang. Sebelum tiba di Cikande, kami melewati pintu tol Ciujung. Di sini, jalan menjadi macet kembali karena banyak antrian kendaraan khususnya truk-truk Transformer yang mau masuk tol. Sepanjang jalur menuju Cikande jalan menjadi sempit dan rusak. Di kanan-kiri jalan masih banyak terdapat sawah dan semak belukar khas daerah pedesaan. Seperti halnya pada ruas Bitung-Balaraja-Cikupa, ruas di Cikande juga dijejali oleh truk-truk Transformer, karena di sepanjang Jalan Raya Jakarta-Serang juga banyak pabrik-pabrik. Diantaranya yang saya ingat adalah, komplek perusahaan PT Wisma Indah Kiat yang di dalamnya minimal terdapat dua divisi yaitu Cakrawala Mega Indah [Factory] (Carton Box Divison) dan Cakrawala Mega Indah [Factory] (Pulp & Paper Division).

The Transformers

The Transformers

Pukul 11.15 WIB, kami memasuki Kota Serang. Terminal Pakupatan dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) adalah dua tempat penting pertama yang kami lewati. Terminal Pakupatan masih seperti beberapa bulan yang lalu saya kunjungi, dipadati oleh bus antar-kota dan antar-provinsi serta jalan yang rusak. Padahal, sepengetahuan saya pengelolaan Terminal Pakupatan telah diserahkan pada Kota Serang, namun hingga saat ini tak jua kunjung ada perbaikan dan pengelolaannya masih terkesan ruwet. Kami terus menyusuri wilayah Kota Serang. Pemberhentian pertama kami di Kota Serang adalah warung ayam goreng tulang lunak. Ternyata tak hanya kami yang memilih ayam goreng tulang lunak depan KPPN Serang ini, ternyata teman2 kantor kami yang memiliki tujuan sama juga menikmati makan siang di sini.

Selepas istirahat makan siang dan sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan sesuai dengan tujuan utama kami, mencari kontrakan rumah di Serang. Beberapa perumahan kami kunjungi sambil tanya sana-sini siapa tahu masih ada rumah yang dikontrakkan, mulai dari Serang Hijau, Ciceri Indah, Taman Graha Asri, Komplek Permata, Permata Asri, dsb. Pukul 18.00 WIB kami sudahi pencarian ini dengan hasil nihil. Namun, sudah ada beberapa rumah yang kami incar menunggu untuk didiskusikan oleh teman2 lain yang rencananya mau se-rumah. Selepas sholat maghrib kami melanjutkan perjalanan pulang. Berbeda dengan pada saat berangkat, kami pulang menghabiskan waktu hingga 2,5 jam karena kami berjalan lebih pelan dan hati-hati mengingat jalanan yang gelap dan banyak lobang di jalan yang tak terlihat (baca: ranjau jalan). Saran saya, jika mau mengarungi jalanan Jalan Raya Pos khususnya wilayah Serang-Tangerang hindari berkendara pada malam hari. Sekian.

Sumber artikel: http://jelajahunik.blogspot.com/2010/04/sejarah-jalan-anyer-panarukan.htmlhttp://www.nederlandsindie.com/daendels-perintis-infrastruktur/.

gambar diambil dari: sini, sinilah, situ, dan sini jua

semeru st., jember, selasa 1 Februari 2011

Comments
  1. Pembuatan Jalan beda di indonesia, beda lagi di belanda, proses pembuatan jalan di belanda sangat unik. hihihi…

    beda di indonesia, beda lagi di belanda, proses pembuatan jalan di belanda sangat unik. hihihi…

    • miqoazura says:

      kalau unik dalam arti positif saya setuju karena Belanda terkenal dengan kecanggihan teknik sipil-nya. bayangkan bikin jalan tol 1000km cuma dalam waktu setahun, kalau indonesia bikin tol 10km aja gak jadi2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s