Cukang Taneuh yang Menawan dan Citumang yang Perawan (Part 1)

Posted: October 1, 2011 in My Adventure

Grand Canyon, USA. adalah sebuah ngarai tebing-terjal, diukir oleh Sungai Colorado, di utara Arizona. Ngarai ini merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan sebagian besar berada di Taman Nasional Grand Canyon; salah satu taman nasional pertama di Amerika Serikat. (wikipedia.org)

Itulah sepenggal artikel di laman wikipedia yang menjelaskan tentang ngarai terbesar nan indah di Amerika Serikat yang sudah sering kita kenal. Namun bukan itu yang akan saya ceritakan di posting kali ini.  Namanya Green Canyon atau ngarai hijau, adalah sebuah ngarai yang membentang di tepi sungai Cijulang yang dialiri air berwarna hijau, sehingga disebut Green Canyon. Wanawisata ini terletak di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis ± 31 km dari Pangandaran dan ± 130 km dari jantung kabupaten Ciamis. Penduduk sekitar menamai lokasi wisata tersebut dalam bahasa Sunda dengan cukang taneuh atau dalam bahasa Indonesia artinya jembatan tanah. Disebut jembatan tanah mungkin karena ngarai/tebing antara dua tepi sungai hampir menyatu menyerupai jembatan.

Cukang Taneuh "Green Canyon of Indonesia"

Wisata Cukang taneuh atau saya lebih suka sebut Green Canyon, sudah dikenal mulai tahun 90-an setidaknya itu informasi yang saya dengar dari local guide di sana. Sebutan “Green Canyon of Indonesia” sendiri mulai dikenal sejak sekelompok turis dari Perancis mengunjungi daerah tersebut pada tahun 1993. Sejak itulah nama tersebut lebih populer di kalangan masyarakat dan para pelancong dari dalam dan luar negeri.

Saya dan enam sahabat perantauan Jember; Pandu, Yudha, Rosid, Sindu, Nia, dan Ita  berkesampatan mengunjungi Green Canyon tersebut pada 10-11 September 2011 baru-baru ini. Berawal dari perbincangan reuni dan buka bersama pada Agustus 2011, kami sepakat untuk berplesir ke wilayah Ciamis dan Pangandaran, Jawa Barat ke Green Canyon of Indonesia. Jumat malam pukul 18.00 saya meluncur dari Serang sepulang kantor dengan mengendarai Innova G keluaran tahun 2010 sewaan menuju Jakarta. Meeting point pertama telah kami tentukan yaitu di Citos, Jakarta Selatan. Sejam lebih saya menunggu, berkumpullah Sindu, Yudha, Rosid, dan Nia. Lepas pukul 23.30 malam kami berangkat menuju Cianjur meeting point kedua, molor dua jam dari jadwal.

Jagorawi Malam

Dan perjalanan ke Cianjur adalah perjalanan yang penuh cerita. Saya, Sindu, Yudha, Rosid, dan Nia tidak pernah sekalipun ke Cianjur, pun melewati tol Jagorawi. Sepi senyap, nyaris masuk ke tol Cikampek dan nyaris mencium truk tronton karena tidak sadar bahwa tol berjalur dua arah langsung menghiasi cerita perjalanan. Dini hari sekitar pukul 01.30, setelah keluar dari tol Jagorawi kami masuk kalau tidak salah itu kota Bogor. Kota Bogor tidak macet seperti yang diceritakan orang, karena memang saat itu adalah dini hari tidak banyak orang beraktivitas. Pandu sahabat yang kami jemput di Cianjur memberi perintah “keluar tol langsung lurus!”.  Kata-kata itu kami pegang selama perjalanan menuju Cianjur. Kami tidak mengindahkan rambu penunjuk arah lagi karena perintahnya sudah jelas “jalan lurus“. Sejam, sejam setengah kami jalan. Kenapa tidak seperti yang dipandukan, batin saya. Tidak melewati Cipanas dan tidak melewati puncak. GPS menunjukkan wilayah Cibadak. Kami segera menelepon Pandu dan berharap memandu dengan benar. Dan yang kami khawatirkan terjadi, nyasar. Sebenarnya sih bukan nyasar cuma agak memutar sedikit. Seharusnya melewati jalur puncak tapi kami melewati Sukabumi. “Ya namanya juga jalan-jalan”, pembenaran saya.

Agar lebih memudahkan pencarian dan tidak nyasar lagi kami menggunakan fasilitas Google Latitude lewat ponsel BB. Dan perjalanan Sukabumi – Cianjur pun dimulai. Awalnya perjalanan lancar jaya karena jalanan sepi – asoy. Namun ketika sudah mendekati Cianjur, di jalan turunan, sekitar pukul 03.00, kami melihat keanehan terjadi. Pohon-pohon di kiri jalan tumbang. Tidak ada hujan angin, tidak ada pembalakan liar, pun tidak ada Death-Eaters yang mengacau. Kenapa pohon2 pada tumbang? Tak lama kami disetop oleh bapak-bapak penduduk sekitar. Informasinya ada kecelakaan tunggal truk gede yang tergelincir dan truknya menghalangi seluruh jalan. Sopirnya masih tersangkut di dalam truk tidak ada yang berani mengevakuasi, entah masih hidup atau sudah pindah alam. Sayang sekali kami tidak sempat mengabadikan kejadian nahas tersebut. Kami diarahkan untuk mengambil jalur alternatif lewat perkampungan. Sungguh jalur yang tidak cocok untuk mobil Innova. Jalur persawahan nan berbatu naik turun selebar 3 meter saja. Sindu sang driver waktu itu berjalan hati2 sambil sesekali “dimarahi” oleh pengemudi di belakang karena jalannya terlalu lambat, sambil berteriak “terus..terus..“. Meskipun ada pertigaan dan jurang di depan entah kenapa orang-orang ini tetap berteriak “terus..terus..“.

Rumah Makan BETI di Kota. Banjar

Pukul 03.40 kami tiba di Cianjur. Pandu sudah stand by dan segera melanjutkan perjalanan ke Kopo, Bandung meeting point ketiga menjemput Ita alias Yunita. Setelah menjemput Ita di Kopo kami lanjut menuju Ciamis. Lingkar Nagreg menjadi tantangan pertama. Pandu, sudah lihai mengarungi jalur Nagreg. Tapi oopss, Rosid tak tahan dan muntah. Muntah di depan rumah orang yang tak berdosa. Ita pusing tapi tak jadi muntah karena duduk di samping pak sopir Pandu yang sedang bekerja.

Pukul 08.00 kami berhenti di Kota Banjar untuk sarapan. Kami memilih resto seadanya yang penting cepat. RM Beti di Tanjungsukur, Kota Banjar jadi pilihan kami. Kami memesan nasi goreng karena seharusnya menu tersebut terbilang makanan cepat saji. Tapi ternyata sama juga lama.

Cukang Taneuh aka. Green Canyon

Dari kiri: Pandu, Ita, Nia, Sindu, Saya, Rosid, dan Yudha (yg motret)

Sekitar pukul 10.30 kami tiba di lokasi Green Canyon. Sempat berfoto sebentar di depan gerbang kemudian lanjut ke loket. FYI, untuk menikmati wisata Green Canyon dengan kapal kecil cukup membayar Rp75.000,- untuk satu kapal dengan muatan max. 5 orang dengan durasi legalnya 45 menit. Kami sewa dua kapal karena kami bertujuh. Selain itu terdapat juga paket body rafting dengan tarif Rp800.000,00 untuk 5 orang. Kami tidak memilih paket yang mahalnya selangit itu. Kami memilih membuat paket body rafting sendiri. Nanti saya ceritakan🙂

Perjalanan dimulai dengan mengantre kapal menuju Green Canyon di dermaga kecil dekat loket. Menurut petugas di sana, perjalanan menuju Green Canyon dengan kapal membutuhkan waktu 15 menit. Sehingga pulang pergi 30 menit dan waktu bermain-main di Green Canyon hanya 15 menit. Sudah jauh-jauh masa cuma sebentar saja di Green Canyon. Kami lalu mencari cara lain untuk sekedar memperlama waktu “bermain”. Berdasarkan informasi teman Pandu, pengemudi kapal juga bisa menyulap dirinya menjadi local guide. Local guide yang dimaksud disini adalah mereka bisa disuap agar bisa memperpanjang durasi sekeinginan kita sambil mengantar ke lokasi-lokasi indah di Green Canyon. Agak menyalahi aturan memang, tapi sekali-sekali boleh lah. Selama di kapal, kami menikmati pemandangan sekitar yang sangat indah-alam asri, berfoto-foto, sambil melakukan tawar menawar dengan pengemudi kapal terkait tarif special request kami. Akhirnya kami deal di harga Rp320.000,00 untuk dua kapal. Sedikit mahal, tapi lumayan lah daripada cuma 15 menit di sana.

Pada 15 menit Perjalanan Kapal ke Green Canyon

Kami begitu menikmati pemandangan alam menuju Green Canyon dengan menggunakan kapal kecil. Susunan batu cadas di sepanjang bibir sungai menghiasi kanan kiri-jalur kami. Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan hampir hijau. Tebing-tebing terjal mirip ngarai menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu kami juga melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Saya hanya berharap semoga atap dan dinding ngarai ini tidak benar-benar runtuh. Aktivitas utama di sini adalah berenang dan berfoto ria. Saran saya bawalah kamera anti air, dry bag untuk menyimpan dompet dan ponsel, serta baterai kamera cadangan. Pengalaman kami membawa pocket camera biasa dengan baterai yang cepat habis sangat menyebalkan. Hasrat berfoto-foto menjadi kurang maksimal.

Satu hal yang unik, beberapa meter dari tebing Green Canyon terdapat semacam anjungan yang sering dimanfaatkan untuk melakukan adegan lompat indah. Tingginya sekitar 7 meter. Lokasi ini merupakan spot favorit kami. Semua dari kami mencoba meloncat dari atas kecuali Rosid. Mungkin karena badan yang terlalu enteng jadi agak khawatir. Yang menarik adalah Sindu. Berkoar akan loncat 2 kali ternyata malah tidak berani lompat, ingat istri katanya. Akhirnya setelah lama berjuang melawan rasa ngerinya Sindu turun lewat dinding bebatuan (baca: tidak jadi loncat). Ternyata pengalaman loncat dari ketinggian 7 meter lumayan seru juga. Sempat melayang beberapa saat lalu, “jebuuurrrr….“.

1) Spot Lokasi Anjungan 2) Mendaki Puncak Bibir Anjungan 3) Bersiaaappp.. 4) Jebuurrr..

Perjalanan dilanjutkan semakin ke dalam. Sungai semakin sempit namun semakin dingin dan berwarna hijau. Setelah dua jam bermain rasa lelah mulai menghinggapi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Green Canyon hari itu. Satu hal lagi yang unik ketika kami pulang. Kami pulang tidak berjalan kaki atau berenang seperti saat berangkat. Kami pulang dengan gaya sepur-sepuran (baca: posisi kereta-keretaan). Jadi kami perpegangan kaki pada punggung dan mengalir mengikuti arus sambil sesekali menghantamkan diri ke batu kali, that is real body rafting stuff guys..

Green Canyon yang Menawan

Perjalanan hari itu berakhir pada pukul 15.00. Kami bersiap mencari penginapan di sekitaran Batu Karas atau alternatif lain di Pangandaran untuk melanjutkan kegiatan di esok hari. (to be continued)

-catatan kaki: dua gambar dipinjam dari sini dan situ

semeru st, jember 01 oktober 2011

Comments
  1. ferdykanzz says:

    wah, jadi pengen ke sana dad. thx info-infonya

  2. miqoazura says:

    iyo mas, manteb.. tapi sekarang jadi seperti dikomersilkan.. mahal semua disanaaa –“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s