Cukang Taneuh yang Menawan dan Citumang yang Perawan (Part 2)

Posted: October 5, 2011 in My Adventure

Heiiyoo.. saya masih workshop proyek kantor di Kalibata, Jakarta untuk melanjutkan cerita ini, maaf kalau ceritanya rada panjang. My last postCukang Taneuh yang Menawan dan Citumang yang Perawan (Part 1)“, kami; saya, Pandu, Yudha, Rosid, Sindu, Nia, dan Ita masih di sekitaran Kecamatan Cijulang, wanawisata Cukang Taneuh aka. Green Canyon berada. Pulang dengan badan setengah remuk dan beberapa kaki-tangan lecet kami melanjut mencari penginapan. Standar kami bukan hotel bintang tiga ataupun bintang tujuh. Kami mencari homestay, ya, rumah penduduk yang bisa disewa. Menurut informasi local guide kami – masih ingat dengan sopir kapal di Green Canyon pada cerita Part 1, penginapan banyak tersedia di Batu Karas, jika tidak ada di Pangandaran. Berangkat dari informasi itu, melanjutlah kami ke Batu Karas.

Batu Karas Surfing Destination

Pantai Batu Karas, Pangandaran, Kab. Ciamis

Sore hari sekitar pukul 16.00 kami masuk wilayah Batu Karas. Belum menikmati pemandangan apapun, kami sudah ditarik retribusi di gerbang masuk lokasi Rp27.200,- untuk satu mobil, tidak mahal. Mulailah kami mencari penginapan. FYI, Batu Karas merupakan nama salah satu destinasi wisata pantai selatan yang letaknya di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang dapat dijangkau dengan kendaraan lebih kurang 45 menit dari Pangandaran atau 5 menit dari Green Canyon. Batu Karas adalah surga bagi olahraga selancar dan olah raga air lainnya seperti banana boat. Sore itu, Batu Karas lumayan rame. Banyak juga wisatawan asing maupun domestik yang datang ke Pantai Batu Karas untuk berselancar. Di sini kita bisa mencoba kemantapan kaki untuk berdiri dan meliuk bersama ombak di atas surfboard. Namun, olahraga itu tidak cocok bagi saya, kebetulan satu-satunya papan selancar yang saya punya adalah papan untuk setrika alias ironboard, dan saya tidak membawanya.

30 menit kami berkeliling mencari penginapan. Karena hari itu adalah weekend, semua penginapan di pinggir pantai sudah penuh. Setelah bertanya sana-sini dapat lah kita penginapan. Homestay atau rumah penduduk itu harganya Rp500.000,- per malam dengan fasilitas dua kamar tidur, ac (angin celowokan), kamar mandi luar (bener2 di luar rumah utama dengan penutup seadanya), tv 14″, kompor gas yang gasnya harus beli dulu, dan listrik mungkin 450watt yang gampang sekali nggejlek. Dengan fasilitas seperti itu, Nia sang akuntan langsung nego. Dan kita mendapat harga spesial hari itu meskipun katanya yang punya rumah tidak sedang ulang tahun, Rp300.000,- semalam. Cukup sebanding dengan fasilitasnya.

Malam di Pinggir Pantai Batu Karas, Pangandaran

Malamnya kami berjalan menyusuri pantai karena sore tadi harus istirahat dan bersih-bersih badan. Niat awal mencari makan seafood atau semacamnya. Tapi akhirnya kami urungkan karena tempat dan harganya tidak representatif (baca: mahal). Bolehlah kami berfoto di sekitaran pantai selatan. Malam yang cukup hiruk dengan desiran angin khas pantai selatan dan diselingi deburan ombak yang menderu kencang – dingin menusuk tulang. Suara nyaring pepohonan bergesekan dengan angin bak bernyanyi dalam kesunyian malam. Malam itu, pantai Batu Karas sedang pasang. Kami terus memantau twitter dan social network lainnya takut ada tsunami datang. Dan, Alhamdulilah ya ternyata tidak ada tsunami, sesuatu banget buat kami.

Di homestay, kami; saya, Pandu, Nia, Yudha lanjut bermain kartu, sementara chef Ita dan chef Rosid menyiapkan menu makan malam spesial, Indomie goreng khas anak kos, setelah sebelumnya membeli gas elpiji 3kg Rp15.000,- salah satu “fasilitas” homestay kami. Dan Sindu terkapar pulas di kasur karena belum tidur 3 hari 3 malam karena kesibukan kerjaan. Capek bermain kartu minuman (kadang juga disebut permainan cangkul), kami main truth or truth, bukan truth or dare, karena dare-nya bingung disuruh apa. Jadilah sesi curhat gratis malam itu, sangatabgsekali.

Pukul 07.00 pagi kami bersiap untuk kembali menyambangi pantai. Rencana utama adalah melihat sunrise from the south of Java. Namun alih-alih melihat sunrise, karena kesiangan, kami cuma kedapatan sunbath. Ya, karena matahari sudah tinggi, pantai sudah panas oleh terik matahari pagi. Jadilah kami hanya berfoto di suatu tanjung yang menjulang membentuk bukit di pinggir pantai Batu Karas. Di bawahnya deburan ombak pantai selatan beradu dengan cadasnya batu karang, indahnya istimewa.

Meretas cerita di bukit-tebing pinggir Pantai Batu Karas, Pangandaran

Puas berfoto-foto kami kembali untuk bersiap melanjutkan perjalanan pulang. Sebelum pulang kami sepakat untuk mencari satu obyek wisata lagi. Dan pantai Batu Hiu yang kami pilih.

 Pantai Batu Hiu Wisata Keluarga

Kurang lebih 20 menit perjalanan dari Batu Karas, Innova tangguh kami memasuki wisata Pantai Batu Hiu, sebuah pantai dengan tebing cukup terjal yang memiliki pemandangan lepas ke arah Samudra Hindia. Pantai Batu Hiu ini terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Ciamis. Pantai ini dinamakan “Batu Hiu” karena tampak di pinggir laut sebuah batu karang yang menyerupai sirip ikan hiu. Pantai batu hiu mudah dikenali karena memiliki landmark yang cukup unik di gerbang masuk lokasi wisata. Seekor hiu besar yang siap memangsa para pengunjung adalah landmarkutama wisata Pantai Batu Hiu ini. Tebing di pinggir bukit di tepi pantai Batu Hiu adalah spot memancing terbaik di sini. Dari sana para pemancing-pemancing lokal maupun luar kota beradu teknik demi mendapat ikan karang buruannya. Kebetulan saya membawa pancing, dua bahkan, namun bukan pancing yang cocok karena alat pancing yang saya punya adalah pancing kali bukan pancing laut.

Foto Model Style @Batu Hiu, Pangandaran

Sungguh berada di sana membuat kami tak bosan. Sangat seru berdiri di tepi tebing terjal dengan ketinggian, mungkin 15 meter. Khawatir kesorean kami memutuskan untuk segera beranjak dari surga dunia itu. Pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan untuk pulang, setidaknya itu rencana awal sebelum hal yang menakjubkan menimpa kami.

Berbelok dari pantai Batu Hiu, kami menuju jalur utama Pangandaran untuk pulang. Namun, entah kenapa sang driver Pandu malah menuju ke wisata alam lain sekitar situ. Saya tak jelas maksudnya. Okelah mampir sebentar, batin saya. Melalui sebuah jalur yang sempit, saya melirik ke sebuah tulisan di atas, “Menuju Lokasi Wisata Alam Citumang”. Bingung, mungkin pantai lagi, tidak ada yang tahu.

Citumang “The Hidden Paradise”

Melalui jalan yang sempit, Innova kami menuju ke the unknown place, Citumang. Satu-dua portal mirip pos penjagaan terlewati. Pertama masuk bayar Rp1.500,- kemudian pos berikutnya Rp2.000,- kemudian semakin ke dalam semakin sempit jalurnya. Mana tempat wisatanya? Kenapa cuma hanya ada portal dadakan yang dibuat oleh penduduk setempat untuk menghalalkan pungli? Pun tidak dengan karcis yang resmi dari dinas pariwisata setempat. Belum sempat pertanyaan saya itu terjawab di depan sudah ada portal lagi. Kali ini bayar Rp5.000,- buat ongkos parkir katanya.

Ke arah kiri Innova kami mengambil posisi parkir. Buka jendela mobil, ada bapak-bapak yang datang menghampiri. Kesempatan ini tak kami sia-siakan. Dengan polosnya kami langsung bertanya, “Ini wisata apa?”. “Ini Citumang”, jawab bapak itu sekenanya. “Citumang itu apa?”, lanjut kami masih dengan wajah bingung. “Ayo turun lihat-lihat fotonya”, jawab bapak tadi dengan ramah.

Citumang, the Hidden Paradise

Dan ternyata Citumang adalah the hidden paradise. Gambar yang dicitrakan dalam foto yang ditunjukkan pada kami oleh bapak penjaga tadi sangat memukau. Indahnya istimewa – sungai, goa, dan airnya. Yap, Citumang merupakan nama sungai di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Ciamis. Satu hal yang unik dari Sungai Citumang, airnya berwarna kebiruan mengalir dari dalam goa cadas tak jauh dari sana. Goanya indah dengan stalaktit-stalaktit proses alamiah ratusan tahun. Konon, nama Citumang berasal dari legenda seekor buaya buntung bernama “Si Tumang” yang hidup disekitaran goa. Begitu kuatnya kepercayaan penduduk akan kehadiran buaya buntung tersebut sehingga sampai sekarang sungai itu diberi nama Citumang. Sedangkan goa alami yang mengalirkan air sungai dari dalam tanah bernama Goa Taringgul.

Tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk mengambil tour-Citumang. Kami dapat menikmati wisata alam Citumang hanya dengan membayar kalau tidak salah Rp35.000,- per orang itu sudah termasuk sewa pelampung Rp15.000,-. Sedangkan tips guide tersendiri dan terserah pengunjung. Di Citumang atau biasa dikenal dengan the Green Valley kita bisa melakukan aktivitas seperti tracking, wall climbing, berenang, body rafting, dan yang paling seru adalah ekspedisi goa Taringgul.

Citumang masih perawan, mungkin masih banyak belum tahu lokasi itu. Berbeda dengan Green Canyon yang pengunjungnya sampai antri panjang. Di sini, kami langsung masuk dan menuju lokasi tanpa antri. Meski tidak seramai Green Canyon, keksotisan Green Valley Citumang tidak kalah. Kami langsung masuk ke bibir goa Taringgul, berenang. Goanya gelap, airnya biru sedalam mungkin 6-7 meter. Seperti halnya green canyon, di sini juga ada anjungan untuk adegan loncat indah. Bedanya di Citumang, sebelum loncat kami memanjat tebing kemudian dilanjut memanjat akar pohon berdiameter 20cm, cukup serem untuk mengadu nyali. Tinggi akar yang tumbuh horizontal di atap gua ini sekitar 5 meter dari permukaan air. Hampir semua dari kami meloncat termasuk kali ini Rosid. Agaknya dia penasaran setelah kemarin tak melompat. Saya dan Pandu melompat, jebuur…suara gemuruh airnya mantab. Sedangkan Rosid melompat, clepekk…suaranya kurang mantab karena badannya terlalu ringan. Sindu, sama seperti ketika di Green Canyon, dia yang paling semangat memanjat. Namun ketika sudah sampai di akar pohon di atap gua, dia kembali mengurungkan niatnya, turun melalui tebing dan tidak jadi lompat. Nampaknya keeksotisan Citumang belum dapat membujuk nyalinya.

1) Persiapan Loncatan 2) Terbaang..

Setelah berenang kami melanjut menyusuri goa Taringgul. Gelap, senyap, dan mungkin mistis. Pandu sebagai seorang dokter telah menyiapkan perlengkapan khusus untuk menyusuri goa, yaitu senter pasien mini. Dia berenang paling depan, diikuti kami ber-enam, sedangkan guide kami entah kenapa tidak mau mengikuti dan malah berdiri di belakang. Airnya semakin biru, tak tampak dasarnya, dan kaki kami hanya bisa berenang tidak sampai menyentuh dasar, kabarnya kedalaman sungai goa itu hingga 9 meter. Sampai di ujung goa, tidak ada apa-apa. Seperti sebuah gang, di sinilah jalan buntunya. Atap goa agak terang, tanda ada lobang kecil di ujung atap goa. Kami ternganga melihat cakrawala goa, begitu indahnya. Saya kemudian berbalik arah ke belakang, tiba-tiba Ita berteriak dan bergegas berenang keluar goa. Kami kaget, kami semua ikut berenang secepatnya keluar goa. Ada apa gerangan hingga berteriak lantang seperti itu. Usut punya usut, Ita takut memasuki goa itu dan ketika di dalam merasa ada “sesuatu” berenang di bawah air dekat kakinya. Saya berharap itu bukan ular anaconda segede pohon kelapa seperti di film-film. Namun dibalik itu semua, kita semestinya harus lebih “sopan” jika berada di tempat jarang manusia seperti itu. Mungkin ada makhluk lain yang tidak suka dengan kehadiran kita, bisa jadi, tidak ada yang tahu.

Perjalanan kami selanjutnya menyusuri sungai menuju pos utama, it’s body rafting time!! Kadang sungai lumayan dalam, dan kadang cuma semata kaki. Kadang berenang dan kadang berjalan. Setiap ada air terjun kecil kami langsung menuruninya loncat indah dengan gaya seunik-uniknya selucu-lucunya. Kami juga menemukan teknik body rafting baru. Jadi, cara ini hanya bisa dilakukan secara tim. Kami menyebutnya, gaya uler-uleran(“uler”, bahasa Jawa = ulat). Tangan anggota paling belakang memegang kaki anggota tim depannya, begitu seterusnya sampai depan. Anggota paling belakang bertugas mengalirkan energi gerak dengan cara menarik-dorong kaki anggota depannya, sehingga membentuk suatu gerakan yang konstan. Sementara anggota paling depan bertugas mengatur arah sebagai sopirnya. Seru.

Citumang Punya Cerita

Kami merampungkan tour-Citumang pada pukul 01.00 siang. Sebenarnya kami masih ingin bermain lebih lama di sana, sayang mengingat jarak pulang yang cukup jauh, kami menyudahinya lebih awal. Hal yang kembali sangat disayangkan adalah kami hanya sedikit mengambil foto di Citumang, karena kamera Yudha sudah kalah kehabisan baterei sejak awal.

Di perjalanan pulang, macetnya perjalanan sebelum lingkar nagreg membuat kami jadi banyak bertukar cerita. Mulai cerita ilmiah fisika favorit saya hingga cerita mistis. Oia, malam itu kami menyadari ada beberapa keanehan foto kami di Citumang. Penampakan orbs di satu dari sekian banyak foto di depan goa Taringgul dan tangan misterius di tengah sungai. Banyak perdebatan dan diskusi yang terjadi. Yaah biarlah itu menjadi misteri penghias perjalanan kami yang mengasikkan dan menyenangkan🙂. Green Canyon yang menawan dan Citumang yang perawan. Sampai jumpa di perjalanan kami selanjutnya.

Kiri: Orbs di Goa Taringgul; Kanan: Misteri tangan siapa

Dari kiri atas: Rosid, Ita, Sindu, Pandu ; Dari kiri bawah: saya, Yudha, Nia

-beberapa foto dipinjam dari sini dan sana

kalibata-jakarta, rabu, 05 oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s